Matius 26:36-46 - Getsemani: Ketaatan Kristus di Bawah Cawan Murka Allah

 Matius 26:36-46 - Getsemani: Ketaatan Kristus di Bawah Cawan Murka Allah

Pendahuluan: Getsemani sebagai Titik Balik Penebusan

Perikop Getsemani Matius 26:36-46 adalah salah satu bagian paling dalam dan misterius dalam seluruh Injil. Di sinilah kita melihat Kristus bukan hanya sebagai Guru, Mujizat, atau Raja yang dielu-elukan, tetapi sebagai Hamba yang menderita, yang bergumul dalam kedalaman jiwa-Nya menghadapi salib.

Dalam tradisi Reformed, bagian ini dipahami bukan sekadar sebagai contoh ketabahan atau doa yang tekun, melainkan sebagai momen teologis yang menentukan dalam sejarah penebusan (historia salutis). Di taman ini, Anak Allah yang kekal, yang sehakikat dengan Bapa, menyatakan dalam kemanusiaan-Nya pergumulan yang nyata di hadapan kehendak ilahi.

John Calvin menulis dalam Commentary on the Synoptic Gospels bahwa Getsemani menunjukkan “kedalaman kengerian yang harus ditanggung Kristus agar kita memahami betapa mahalnya harga penebusan kita.” Bukan penderitaan fisik yang terutama ditekankan di sini, melainkan penderitaan jiwa—konfrontasi dengan murka Allah terhadap dosa.

1. Getsemani: Tempat Doa dan Penggenapan Nubuat (Matius 26:36)

“Maka sampailah Yesus… ke suatu tempat yang bernama Getsemani.”

Getsemani berarti “tempat pemerasan minyak.” Secara simbolis, ini sangat signifikan. Seperti buah zaitun yang diperas untuk menghasilkan minyak, demikian pula Kristus akan “diperas” di bawah tekanan murka Allah.

Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menekankan bahwa seluruh kehidupan Kristus adalah jalan ketaatan aktif dan pasif. Di Getsemani, kita melihat awal intensifikasi penderitaan pasif-Nya—kesediaan-Nya untuk menanggung hukuman dosa.

Yesus memisahkan diri untuk berdoa. Ia tidak menghadapi penderitaan secara stoik atau heroik dalam pengertian dunia. Ia datang kepada Bapa. Ini menunjukkan relasi Trinitaris yang intim dan menjadi fondasi pemahaman Reformed tentang karya penebusan: salib bukan tragedi kosmis, melainkan rencana kekal Allah Tritunggal.

2. Kesedihan dan Kegentaran Kristus (Matius 26:37–38)

“Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar…”

Teks Yunani (lupeisthai dan ademonein) menunjukkan kesedihan yang mendalam dan kegelisahan yang sangat kuat. Ini bukan sekadar kecemasan ringan; ini adalah tekanan eksistensial.

Pertanyaan teologis penting muncul: Bagaimana mungkin Anak Allah merasa gentar?

Teologi Reformed menjawab melalui doktrin dua natur Kristus (communicatio idiomatum). Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Dalam natur ilahi-Nya, Ia tidak dapat menderita. Namun dalam natur manusia-Nya, Ia sungguh-sungguh mengalami kesedihan dan kegentaran.

Louis Berkhof menegaskan bahwa natur manusia Kristus bukanlah “topeng,” melainkan natur sejati dengan jiwa rasional dan emosi nyata. Karena itu, kesedihan-Nya bukan sandiwara. Ia sungguh mengalami tekanan jiwa.

“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.”

Calvin menjelaskan bahwa Kristus mengalami “terror conscientiae”—kengerian jiwa ketika berhadapan dengan hukuman dosa. Namun penting: Ia tidak menanggung rasa bersalah pribadi, melainkan murka terhadap dosa yang akan dipikul-Nya sebagai Pengganti.

R.C. Sproul menambahkan bahwa di Getsemani, kita melihat Kristus mulai merasakan bayang-bayang keterpisahan relasional yang akan memuncak di salib ketika Ia berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

3. Cawan Murka Allah (Matius 26:39)

“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku…”

Apa arti “cawan”?

Dalam Perjanjian Lama, cawan sering melambangkan murka Allah (Yesaya 51:17; Yeremia 25:15). Kristus bukan sekadar takut pada kematian fisik. Banyak martir menghadapi kematian dengan keberanian besar. Yang membuat Getsemani begitu mengerikan adalah isi cawan itu: murka Allah yang kudus terhadap dosa umat pilihan.

John Owen, dalam The Death of Death in the Death of Christ, menekankan bahwa Kristus secara sadar menanggung hukuman pengganti (penal substitution). Ia tidak sekadar mati sebagai teladan, tetapi sebagai substitusi yang menanggung hukuman yang seharusnya kita tanggung.

Permohonan Kristus bukan pemberontakan. Ia berkata, “janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Di sini kita melihat perbedaan antara kehendak natural manusia dan kehendak moral yang tunduk pada Allah. Dalam natur manusia-Nya, Kristus secara wajar menghindari penderitaan. Namun Ia menaklukkan kehendak manusiawi itu kepada kehendak ilahi.

Sinclair Ferguson menyatakan bahwa Getsemani adalah tempat di mana “Adam kedua” berhasil di mana Adam pertama gagal. Di taman Eden, Adam berkata, “kehendakku jadi.” Di taman Getsemani, Kristus berkata, “kehendak-Mu jadi.”

4. Kegagalan Murid-Murid dan Kontras Ketaatan (Matius 26:40–41)

“Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?”

Kontras yang tajam terlihat: Kristus berjaga dalam doa; murid-murid tertidur. Yesus memperingatkan: “Roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Teologi Reformed menekankan doktrin kerusakan total (total depravity). Bahkan murid-murid yang paling dekat dengan Yesus tidak mampu bertahan satu jam. Ini menunjukkan ketidakmampuan manusia untuk berdiri tanpa anugerah.

Calvin melihat di sini ironi ilahi: mereka yang berjanji setia sampai mati tidak sanggup berjaga sebentar. Namun Kristus tidak meninggalkan mereka. Ia menegur, tetapi tetap melangkah menuju salib demi mereka.

Ini adalah Injil dalam bentuk naratif: keselamatan tidak bergantung pada kesetiaan manusia, tetapi pada ketaatan Kristus.

5. Doa yang Diulang dan Keteguhan Ketaatan (Matius 26:42–44)

Kristus berdoa tiga kali. Pengulangan ini bukan karena kurang iman, tetapi menunjukkan intensitas pergumulan.

“Jikalau cawan ini tidak mungkin lalu… jadilah kehendak-Mu!”

Ada perkembangan: dari “jikalau mungkin” menuju penerimaan penuh. Bavinck menekankan bahwa ketaatan Kristus bukan mekanis. Ia adalah ketaatan yang lahir dari pergumulan nyata.

Dalam teologi Reformed, ini disebut active obedience dan passive obedience. Di Getsemani, kedua aspek itu bertemu. Ia secara aktif menaati kehendak Bapa, dan secara pasif menyerahkan diri untuk menderita.

Pengulangan doa juga menunjukkan kedalaman relasi Trinitaris. Tidak ada konflik esensial antara Bapa dan Anak, tetapi ada misteri relasi dalam ekonomi keselamatan.

6. Penyerahan Anak Manusia (Matius 26:45–46)

“Saatnya sudah tiba…”

Yesus tidak lagi berbicara tentang kemungkinan. Ia bangkit dengan keteguhan. Pergumulan selesai; keputusan kekal diteguhkan dalam sejarah.

“Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.”

Ironi yang agung: Sang Hakim dunia diserahkan kepada orang berdosa. Namun ini bukan kecelakaan sejarah. Dalam Kisah Para Rasul 2:23 dinyatakan bahwa Yesus diserahkan menurut rencana dan pengetahuan Allah yang telah ditentukan sebelumnya.

Sproul menekankan kedaulatan Allah dalam setiap detail penyaliban. Getsemani bukan kegagalan misi, melainkan langkah pasti menuju kemenangan salib.

“Bangunlah, marilah kita pergi.”

Kalimat ini penuh otoritas. Ia tidak ditarik ke salib sebagai korban tak berdaya. Ia melangkah maju sebagai Raja yang menyerahkan diri secara sukarela.

Dimensi Kristologis: Dua Natur dalam Satu Pribadi

Getsemani adalah laboratorium kristologi. Di sini kita melihat:

  1. Natur manusia sejati: sedih, gentar, berdoa.

  2. Natur ilahi yang tak berubah: tetap sehakikat dengan Bapa.

Berkhof menegaskan bahwa kesatuan pribadi (hypostatic union) tidak pernah terpecah, bahkan ketika Kristus mengalami penderitaan terdalam.

Ini penting untuk menolak dua ekstrem:

  • Doketisme (yang menyangkal kemanusiaan sejati Kristus).

  • Nestorianisme (yang memisahkan pribadi Kristus).

Getsemani menunjukkan satu Pribadi dengan dua natur yang bekerja selaras dalam rencana keselamatan.

Dimensi Soteriologis: Substitusi Penal

Cawan yang diminum Kristus adalah cawan murka Allah. Dalam teologi Reformed, ini adalah inti Injil: Kristus mati sebagai pengganti yang menanggung hukuman.

Yesaya 53 menemukan penggenapannya di sini. Ia adalah Hamba yang memikul kesalahan banyak orang.

John Owen menyatakan bahwa jika Kristus benar-benar menanggung murka Allah bagi umat-Nya, maka keselamatan mereka pasti dan efektif. Getsemani menjadi jaminan kepastian keselamatan orang percaya.

Dimensi Pastoral: Kristus sebagai Imam Besar yang Berempati

Ibrani 4:15 mengatakan bahwa kita mempunyai Imam Besar yang turut merasakan kelemahan kita.

Karena Ia pernah gentar, Ia memahami kecemasan kita. Karena Ia pernah berdoa dalam tekanan, Ia mengajarkan kita jalan doa.

Namun penghiburan terbesar bukan bahwa Ia mengerti kita, melainkan bahwa Ia taat menggantikan kita.

Dimensi Etis: Pola Ketaatan Orang Percaya

Kalimat “jadilah kehendak-Mu” menjadi pola hidup Kristen.

Namun kita harus berhati-hati: Getsemani bukan pertama-tama teladan etis, melainkan karya penebusan. Teladan mengalir dari karya, bukan menggantikannya.

Ferguson menyatakan bahwa hanya mereka yang telah ditebus oleh ketaatan Kristus yang mampu meniru ketaatan itu.

Kesimpulan: Dari Taman ke Salib, dari Salib ke Kemuliaan

Getsemani Matius 26:36-46 adalah tempat di mana:

  • Kehendak manusia Kristus tunduk pada kehendak ilahi.

  • Murka Allah mulai dibayangkan dalam cawan penderitaan.

  • Kegagalan manusia dikontraskan dengan ketaatan sempurna Sang Anak.

  • Sejarah penebusan bergerak menuju klimaksnya.

Di taman pertama, manusia jatuh karena menolak kehendak Allah.
Di taman kedua, Sang Adam terakhir menang karena tunduk pada kehendak Allah.

Getsemani mengajarkan bahwa keselamatan kita bukan hasil keberanian kita, melainkan hasil ketaatan Kristus yang sempurna.

Dan karena Ia telah berkata, “jadilah kehendak-Mu,” maka bagi orang percaya kini tidak ada lagi cawan murka, melainkan cawan keselamatan.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url